Ingin Melangsungkan Pernikahan Dengan Adat Mandailing? Pahami Dulu Makna Dibalik Riasan Kepala Pengantin Ini.

August 8th, 2018

 

Tak seperti adat lainnya, ternyata melangsungkan pernikahan dengan menggunakan adat Mandailing biasanya harus digelar selama berhari-hari, mengingat prosesi adat yang harus dilewati cukup panjang. Sebagai contoh, kita bisa melihat prosesi adat yang dilakukan oleh putri presiden RI yang dilangsungkan selama kurang lebih satu minggu. Beberapa prosesi adat yang harus dilalui antara lain adalah mangalo-alo boru, manyantan boru, mangalehan marga, pulungan ni horja dan masih banyak lagi, di mana tiap prosesi tersebut memiliki keunikan dan filosofinya masing-masing.

 

Di antara berbagai prosesi tersebut, ternyata ada satu hal yang menarik untuk dibahas, yaitu di antaranya adalah mahkota 7 tingkat yang dinamakan “Bulang” yang dikenakan oleh mempelai wanita ketika melewati proses “mangalehan marga”.

 

Untuk diketahui, Bulang adalah sebuah mahkota berbentuk seperti tanduk dengan 7 tingkatan dan dilapisi emas. Tak hanya masyarakat Mandailing, ternyata Bulang ini juga digunakan di adat pernikahan Sumatera Barat. Tingkatan yang ada pada Bulang tersebut awalnya sebagai penanda jumlah hewan yang akan disembelih ketika melangsungkan upacara adat oleh masyarakat zaman dahulu.

 

Mahkota ini ternyata memiliki berat sekitar 8 kg, karena hampir keseluruhan bagiannya dilapisi oleh emas. Menariknya, banyak masyarakat Mandailing yang mengatakan bahwa berat dari Bulang tersebut sebagai tanda dan simbol bahwa seorang perempuan setelah menikah akan mengemban tugas serta tanggung jawab yang besar terhadap suaminya.

 

Namun seiring perkembangan zaman, Bulang “modern” telah disesuaikan beratnya dan dimodifikasi sehingga memudahkan pergerakan dari mempelai wanita. Kalau itu tadi untuk wanita, kini kita beralih ke mempelai prianya. Untuk pria, biasanya diharuskan untuk mengenakan “Ampu” sebuah topi khas pengantin lelaki dari adat Mandailing.

 

Tak berbeda dengan Bulang, maka Ambu juga memiliki makna dan filosofinya sendiri. Warna hitam yang membalut topi tersebut ternyata memiliki filosofi magis dari budaya Mandailing. Sementara untuk hiasan emas yang ada pada topi tersebut menjadi lambang atas kebesaran dan keagungan dari sang pria.

 

Secara garis besar antara Bulang dan Ampu, keduanya menjadi perlambang raja dan permaisuri dari adat Mandailing atau daerah Tapanuli Selatan sejak dahulu kala. Melalui prosesi pernikahan, budaya seperti ini bisa dilestarikan terus menerus dari generasi ke generasi agar tetap terjaga. Bagaimana menurut Couples?

 

 

Untuk mengetahui lebih lengkap tentang pernikahan adat Mandailing ini, maka Couples bisa langsung mengunjungi situs www.gebyarpernikahanindonesia.com atau juga bisa langsung mengunjungi pameran pernikahan terbesar di Indonesia bertajuk “Gebyar Pernikahan Indonesia” yang akan di selenggarakan di Kartika Expo Center, Balai Kartini Jakarta pada tanggal 10-12 Agustus mendatang. Jangan sampai terlewatkan ya!

 

Leave a Reply